KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas
rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Kepemimpinan”.
makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah perilaku
organisasi.
Dalam makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki.
Untuk itu, kritik dan saran dari semua teman-teman sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam makalah ini,
kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman
yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang
telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas makalah ini.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam kehidupan sehari-hari
senantiasa mengalami dan merasakan kepemimpinan (leadership) dalam aneka macam
bentuk, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kepemimpinan juga
dialami atau dirasakan dari para pemimpin berbagai organisasi yang mana kita
menjadi anggotanya. Bahkan tidak jarang dalam praktek terlihat bahwa manusia
kadang-kadang berada dalam posisi dualistis yaitu kadang-kadang sebagai pihak
yang dipimpin dan pada saat atau kondisi lain ia justru bertindak sebagai
pemimpin.
Jika manusia
berjiwa pemimpin, maka akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan
dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik &
sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan
agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1. agar mengetahui apa yang dimaksud
dengan pemimpin
2. agar mengetahui apa yang dimaksud dengan gaya-gaya
kepemimpinan
3. agar mengetahui tentang teori-teori kepemimpinan
1.3 TUJUAN
MASALAH
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara memimpin
sebuah kelompok atau organisasi. Selain itu juga dapat mengetahui gaya-gaya
kepemimpinan yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam menghadapi situasi dan
kondisi tertentu. Dengan makalah ini juga dapat memberikan informasi mengenai
kepemimpinan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Menurut
Tead, Terry, Hoyt (Kartono, 2003) kepemimpinan yaitu
kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan
pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai
tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut
Young (Kartono, 2003), kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari
atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk
berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki
keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono
(2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat
pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas
tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance
induction theorist) cenderung memandang sebagai
pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana
untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Kepemimpinan
adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis
dalam mengarahkan organisasi secara rutin (D. Katz & Khan, 1978, h.528).
Atas dasar
itu dapatlah kiranya disusun definisi kepemimpinan yang mudah dipahami, yaitu
rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain
dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang
telh ditetapkan.
Kepemimpinan
juga bisa di artikan Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk
pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat secara formal seperti
manajerial pada suatu organisasi.
‘Nonsanctioned
Leadership’ merupakan kemampuan untuk member pengaruh di luar
struktur formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan melebihi
pengaruh struktur formal. Dengan kata lain, seorang pemimpin dapat saja muncul
dalam suatu kelompok walaupun tidak diangkat secara formal.
Dalam arti
yang luas kepemimpinan dapat digunakan setiap orang dan tidak hanyaterbatas
berlaku dalam suatu organisasi atau kantor tertentu. Kepemimpinan adalah
kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku
manusia baik perorangan maupun kelompok. Disini, menurut kami ,kepemimpinan
tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata karma birokrasi. Kepemimpinan
tidak harus diikat dalam suatu organisasi tertentu. Melainkan kepemimpinan bisa
terjadi di manasaja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi
orang-orang lain ke arah tercapainya tujuan tertentu.
2.2 Metode-Metode Kepemimpinan
Setiap
pemimpin memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam gaya kepemimpinan ini.
Ada yang cenderung pada penyelesaian pekerjaan, namun juga ada yang lebih
kepada membangun relasi sosial.Pemimpin dalam organisasi-organisasi bisnis
umumnya lebih memfokuskan pada fungsi yang terkait pada pekerjaan, manakala
pemimpin di organisasi-organisasi kemahasiswaan atau organisasi non profit
umumnya lebih memfokuskan pada fungsi yang terkait pada relasi sosial.
Gaya
kepemimpinan akan ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu dari segi latar
belakang, pengetahuan, nilai, dan pengalaman dari pemimpin tersebut.
Pemimpin yang menilai bahwa kepentingan organisasi harus didahulukan dari
kepentingan individu akan memiliki kecenderungan untuk memiliki gaya
kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan. Demikian pula sebaliknya,
pemimpin yang dibesarkan dalam lingkungan yang
Menghargai
perbedaan dan relasi antar manusia akan memiliki kecenderungan untuk bergaya
kepemimpinan yang berorientasi pada orang-orang. Namun selain keempat faktor
tersebut, karakteristik dari bawahan atau orang-orang yang
dipimpin juga perlu dipertimbangkan sebelum menentukan gaya kepemimpinan apa
yang sebaiknya digunakan. Jika orang-orang yang dipimpin cenderung untuk
menyukai keterlibatan dalam berbagai hal, memiliki inisiatif yang tinggi,
barang kali gaya yang perlu dilakukan lebih cenderung memadukan kedua gaya
kepemimpinan yang ada melalui apa yang dinamakan sebagai manajemen
partisipatif, dimana dalam pendekatan manajemen partisipatif ini faktor
orientasi sosial diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang (apakah dalam
penyusunan tujuan, penyelesaian masalah, dan lain sebagainya) dalam
menyelesaikan pekerjaan.
Telah
terjadi perdebatan dalam waktu cukup lama untuk mencari jawaban apakah ada gaya
kepemimpinan normatif atau ideal. Perdebatan ini biasanya terpusat pada gagasan
bahwa gaya ideal itu ada: yaitu gaya yang secara aktif melibatkan bawahan dalam
penetapan tujuan dengan menggunakan teknik-teknik manajemen partisipatif dan
memusatkan tujuan baik terhadap karyawan dan tugas. Penelitian-Penelitian
teorimotivasi sebelumnya juga mendukung bahwa pendekatan manajemen partisipatif
sebagai yang ideal. Banyak praktisi manajemen merasa konsep-konsep tersebut
membuat peningkatan prestasi dan perbaikan sikap.
Di lain
pihak, beberapa penelitian membuktikan pula bahwa pendekatan otokratik dibawah
berbagai kondisi, pada kenyataannya lebih efektif dibandingkan pendekatan lain.
Jadi, pengalaman-pengalaman kepemimpinan mengungkapkan bahwa dalam berbagai
situasi pendekatan otokratik mungkin yang paling baik, dalam berbagai situasi
lain pendekatan partisipatif yang lebih efektif atau pendekatan orientasi-tugas
dibanding pendekatan orientasi-karyawan dari sisi lain. Kesimpulan yang dapat
dibuat, bahwa kepemimpinan adalah kompleks dan gaya kepemimpinan yang paling
tepat tergantung pada beberapa variabel yang saling berhubungan.
a. Gaya Kepemimpinan Direktif (pemimpin pengarah)
Pemimpin
seperti ini mengutamakan pemberian pedoman dan petunjuk kepada bawahan
bagaimana melakukan pekerjaan serta memberitahukan mengenai apa yang diharapkan
dari mereka.
b. Gaya Kepemimpinan Suportif (pemimpin pendukung)
Pemimpin
seperti ini memberi pertimbangan atas kebutuhan bawahan, memberi perhatian bagi
kesejahteraan dan menciptakan keakraban dengan bawahan dan lingkungan kerja
yang menyenangkan.
c. Gaya kepemimpinan partisipatif (pemimpin
partisipatif)
Gaya
kepemimpinan ini, yaitu beruding dengan bawahan, memberi peluang kepada bawahan
untuk memberi masukan berupa saran dan gagasan sebelum mengambil keputusan atau
mempengaruhi keputusan yang telah dan akan dibuat.
d. Gaya
kepemimpinan yang berorientasi pada prestasi (pemimpin yang berorientasi pada
prestasi)
Pemimpin ini
menetapkan tujuan menantang, mengupayakan bawahan meningkatkan prestasi, serta
mendorong bawahan untuk mencapai tujuan dan hasil karya yang lebih tinggi.
2.3 TIPE-TIPE
KEPEMIMPINAN
a. Tipe
Kepemimpinan Otokratik
Seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang
Menganggap
organisasi sebagai milik pribadi
Mengidentikan
tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
Menganggap
bahwa sebagai alat semata-mata
Tidak mau
menerima kritik, saran dan pendapat
Terlalu
tergantung pada kekuasaan formalnya
Dalam
tindaknya penggeraknya sering mempergunakan approach yang mengandung unsur
paksaan dan puntif (bersifat menghukum
b. Tipe
Kepemimpinan Militeristik
Seorang pemimpin yang bertipe militeristik ialah
seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat:
Kebanyakan
sistem perintah yang sering digunakan
Senang
bergantung pada pangkat dan jabatan
Senang
kepada formalitas yang berlebih-lebihan
Menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya
c.
Tipe Kepemimpinan Paternalistik
Ciri-ciri
dari tipe kepemimpinan ini adalah sebagai berikut.
Menganggap
bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa
Bersikap
terlalu melindungi
Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil
keputusan
keputusan
Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif
Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasi
Sering
bersikap mau tahu
d. Tipe Kepemimpinan Kharismatik
Dalam keadaaan tertentu, tipe
kepemimpinan ini sangat diperlukan karena dapat menutupi sifat negatifnya
dengan kharisma positif yang dimilikinya. Terkadang para bawahannya tidak memiliki
alasan yang kuat untuk memilih seseorang tersebut sebagai pemimpin.
e. Tipe Kepemimpinan Demokratik
Pengetahuan tentang kepemimpinan
telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat
untuk organisasi modern karena:
Ia senang
menerima saran, pendapat dan bahkan kritikan dari bawahan.
Selalu
berusaha mengutamakan kerjasama teamwork dalam usaha mencapai
tujuan.
tujuan.
Selalu
berusaha menjadikan lebih sukses dari padanya.
Selalu
berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
2.4 .
Fungsi Kepemimpinan
1. Membantu menetapkan tujuan kelompok
2. Memelihara kelompok
3
Memberi simbol untuk identifikasi
4
Mewakili kelompok terhadap kelompok lain
5
Memandu, menuntun, membimbing suatu kelompok
6
Menggerakan orang lain yang dipimpin menuju tujuan kelompok
2.5 Teori –Teori Kepemimpinan
A. Teori Genetis (Keturunan).
Inti dari
teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan
(bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan
pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah
dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang
ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia
akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis
pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.
B.Teori Sosial
Jika teori
pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun
merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa
“Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya
kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut
teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa
menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
C.Teori Ekologis
Kedua teori
yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi
terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut
teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil
menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat
tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman
yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan
segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan
teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh
lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja
faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.
Selain pendapat-pendapat yang
menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut,. Dalam suatu
organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses
tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab
itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dalam sebuah organisasi tentunya
harus mempunyai seorang pemimpin yang dapat mengatur sumber daya organisasi
agar dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien sehingga
berdaya guna dan berhasil guna. Seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinannya
masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dewasa ini, terdapat enam tipe
kepemimpinan yang sering digunakan oleh para pemimpin besar maupun dalam ruang
lingkup kelompok sampai organisasi besar. Efektivitas dalam sebuah kelompok
dapat ditentukan juga oleh sikap dan perilaku seorang pemimpin.
Tidak ada tipe kepemimpinan yang
paling benar atau baik untuk digunakan dalam sebuah kelompok. Tipe kepemimpinan
yang efektif yaitu tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi
oleh sebuah kelompok. Misalnya, jika suatu kelompok tersebut sedang mengalami
berbagai masalah yang kompleks atau dalam situasi yang genting, maka tipe
kepemimpinan yang dibutuhkan oleh kelompok tersebut adalah tipe otokratik.
Dimana pengambilan keputusan dilakukan dengan sepihak yaitu oleh pemimpin
kelompok itu sendiri. Tipe kepemimpinan yang ada dalam diri seorang pemimpin
itu didasarkan pada teori-teori kepemimpinan yang ada.
3.2 Saran
Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin
yang bisa mengayomi para bawahannya. Pergunakanlah tipe kepemimpinan yang ada
sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, agar tujuan kelompok atau
organisasi dapat tercapai dengan cara yang efektif dan efisien. Seorang
pemimpin tidak disarankan memiliki sifat yang egois, karena seorang pemimpin
yang baik harus bisa menerima kritik dan saran dari bawahannya.